Relawan Online Partai Nasional Indonesia

November 18, 2008

Kaum Nasionalis

Filed under: Uncategorized
 

Kaum Nasionalis, Bersatulah!

Sukmawati tampak lebih kental sebagai anak ideologis Bung Karno. Partai yang didirikan dan dipimpin-nya diberi nama Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme, dideklarasi-kan 20 Mei 2002. PNI Marhaenisme, kata Sukmawati, merupakan kelanjutan dari PNI yang didirikan oleh ayahnya Bung Karno, Bapak Marhaenisme, Presiden RI pertama, Bapak Bangsa Indonesia, Proklamator Kemerdekaan Indonesia, bersama kawan-kawannya pada 4 Juli 1927 jauh sebelum Indonesia merdeka.

 

PNI Marhaenisme menetapkan “Marhaenisme Ajaran Bung Karno” sebagai asas partai. Sejarah membuktikan PNI semenjak didirikan merupakan partai sejati, partai progresif revolusioner, anti kapitalisme, anti imperialisme, dan anti kolonialisme. Partai itu berjuang untuk kejayaan rakyat, bangsa, dan negara Republik Indonesia.

 

Selama 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa, dengan segala cara, telah terjadi de-Sukarnoisasi termasuk melumpuhkan Partai Nasional Indonesia. Untuk itulah Sukmawati hadir mengaktualkan kembali relevansi paham marhaenisme agar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa baik dalam ucapan maupun perbuatan lewat pendirian partai PNI Marhaenisme.

 

Karena kedekatan konsep, visi, perjuangan, pemikiran, sesama nasionalis, pengagum Bung Karno, PNI Marhaenisme turut memajukan Siswono Yudo Husodo sebagai calon presiden.

 

Siswono dianggap layak dan ideal sebagai seorang nasionalis marhaenis yang punya pemikiran progresif, revolusioner, dan radikal untuk membangun negara sesuai cita-cita luhur pendiri bangsa.

PNI Marhaenisme, kata Sukmawati, merupakan kelanjutan dari Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh ayahnya Bung Karno, Bapak Marhaenisme, Presiden Republik Indonesia pertama,

Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri lahir di Jakarta, 26 Oktober 1951. Bersuamikan Muhammad Hilmy, dia dikaruniai tiga orang anak yang sudah beranjak dewasa. Sehari-hari Sukmawati bergelut sebagai politisi, artis, dan pengusaha swasta. Sebagai ketua umum partai dia aktif berpolitik. Sebagai artis dia antara lain menulis cerita film, menulis puisi, dan menulis atau menyadur buku-buku. Tahun 2003 dia sukses meluncurkan buku Sarinah saduran dari karangan ayahnya sendiri Bung Karno. Buku itu berisi pokok-pokok perjuangan perempuan Indonesia sepanjang perjalanan bangsa. Setiap diskusi, seminar, atau pertemuan yang membahas hak-hak politik dan budaya berikut peranan wanita Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, Sukmawati kerapkali mengintrodusir buku sadurannya itu. Sukmawati juga tercatat sebagai komisaris utama di sejumlah perusahaan swasta.

Putri bungsu Bung Karno ini menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) tahun 1964 di Perguruan Cikini, Jakarta, dan pendidian SMP tahun 1967 di tempat sama. Pendidikan SMA diselesaikan tahun 1969 di SMA Negeri 3 Teladan, Jakarta. Setahun kemudian, antara 1970 hingga 1974 Sukmawati memasuki Akademi Tari di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Masa mahasiswa di LPKJ dia manfaatkan belajar berpolitik di sebuah ormas mahasiswa ekstra universiter Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), tempat sama dimana Siswono Yudo Husodo dahulu berkiprah di tingkat Komisariat ITB Bandung. Belakangan, walau usia sudah berkepala lima sejak tahun 2003 lalu nama Sukmawati mulai tercatat sebagai mahasiswa Universitas Bung Karno, Jakarta, mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Sukmawati mulai meleburkan diri ke dunia politik praktis tatkala tampil sebagai Ketua Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Rakyat Marhaen (GRM), tahun 1991 hingga 1998. Bersamaan waktunya Sukmawati juga menjadi Ketua PNI (Partai Nasional Indonesia) walau tak berkesempatan menjadi peserta pemilu.

Kedekatan sebagai sesama alumni GMNI dengan Siswono Yudo Husodo telah mendorong kedekatan politis antara PNI Marhaenisme pimpinan Sukmawati. Bersama partai PSI dan PPDI, PNI Marhaenisme final menetapkan nama Siswono sebagai calon presiden Pemilu 2004. Sugiono dan I Made Sunarkha, dua orang Ketua PNI Marhaenisme, menyebutkan, nama Siswono sudah positif menjadi calon presiden PNI Marahaenisme.

“Pak Sis cukup ideal, dia banyak pengalaman. Kami masih kommit Pak Sis sebagai leader. Karena dipandang dari berbagai sudut perjuangannya, dia adalah seorang leader nasionalis yang marhaenis,” kata Sugiono. PNI secara keseluruhan sangat, sangat mendukung Siswono. “Siswono, walau pernah dua kali menjadi menteri kabinet Orde Baru, dia tetap masih sebagai nasionalis progresif dan radikal.”

I Made Sunarkha melihat Siswono seorang yang ulet, pemikir, pejuang, mempunyai keinginan yang keras, dan berobsesi menjadi orang pertama di Indonesia dari kelompok independen. Kekerasan hati Siswono membangun bangsa tampak dari keinginannya mengunjungi seluruh Indonesia terlebih semenjak terpilih menjadi Ketua Umum HKTI. Dengan Siswono, Made Sunarkha menyebutkan, “Kami mempunyai konsep dan visi sama yang kuat sekali, yakni mempertahankan,  menegakkan, dan mengisi Pancasila, UUD 45, dan Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI). Itu sudah final.” I Made Sunarkha menyebutkan orang-orang Siswono dan para pendukung terutama kaum nasionalis harus bersatu dan bekerja keras memajukan Siswono. ►ht

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Sukmawati Soekarnoputri Gunakan Ijazah Palsu, KPU Laporkan ke Polisi

Filed under: Uncategorized

KPU akan melaporkan Ketua Umum PNI Marhaenis Sukmawati Soekarnoputri ke Mabes Polri pada Senin. Itu dilakukan setelah terungkap bahwa ijazah Sukma yang digunakan untuk mendaftar sebagai calon legislatif ternyata palsu.

Dalam kunjungan tersebut, KPU yang diwakili Putu mempertanyakan legalitas ijazah Sukma. "Berkas (ijazah)-nya kan tidak ada legalisir. Namun, ada keterangan bahwa dia bersekolah di situ (SMAN 3). Lalu, kita tanya mengapa tidak dilegalisir. Ternyata tidak ada dokumen bahwa dia pernah menyelesaikan sekolah di situ," ujar Putu.

Berdasarkan Pasal 266 UU Pemilu yang mengatur soal ijazah palsu, Sukma terancam pidana penjara paling singkat 36 bulan dan paling lama 72 bulan dan denda paling sedikit Rp 36 juta dan paling banyak Rp 72 juta.

Selain itu, KPU juga menghimpun informasi bahwa Sukma juga memiliki ijazah lain dari SMAN 22 yang digunakannya untuk mengikuti pilleg 2004. Ijazah itu dibuat atas nama Diah Mutiara Sukmawati. Ijazah itu ternyata lolos dalam pemilu yang lalu.

Seusai bertemu dengan Kepala Sekolah SMAN 3 Wike S pagi tadi, KPU mendapati bahwa Sukmawati Soekarnoputri memang pernah bersekolah di SMAN 3, tetapi tak pernah menamatkannya. Sukma hanya bersekolah hingga kelas II di sekolah tersebut.**kompas

 

Sukmawati Tak Lulus dari SMAN 3

Ketua Umum Partai Nasional Indonesia Marhaenis Sukmawati Soekarnoputri ternyata tak menamatkan pendidikannya di SMAN 3 Jakarta seperti yang terlampir di berkasnya sebagai caleg ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Hal ini terbukti dalam kunjungan KPU dan Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) ke SMAN 3, Jumat (24/10), setelah sejumlah protes masyarakat dilayangkan ke KPU dan Bawaslu.

Menurut Anggota KPU Bidang Hukum I Gusti Putu Artha yang hadir dalam kunjungan ini, Kepala Sekolah SMAN 3 Wike S yang ditemuinya mengatakan, pihak sekolah tak berhasil menemukan bukti kelulusan Sukma di salah satu SMA bergengsi di Jakarta itu.

Sebelumnya, Sukma menyerahkan ijazah kelulusan dari SMAN 3, tetapi tanpa legalisir. "Keterangan kepsek, dia (Sukma) tidak pernah bersekolah di sini (SMAN 3), jadi tidak bisa dilegalisir karena tidak satu pun dokumen yang dapat membuktikan Sukmawati menyelesaikan studinya di sini. Sudah dicari, tetapi tidak ketemu," ujar Putu.

Hal senada juga dinyatakan oleh anggota Bawaslu, Bambang Eko Cahyo. Bambang menegaskan bahwa pihak sekolah menyatakan, Sukma pernah bersekolah di SMAN 3 sekitar tahun 1970, tetapi tak pernah menamatkannya di sekolah ini.

"Memang dia pernah jadi murid di sini," ujar Bambang. Lantas, apakah dapat dikatakan ijazahnya palsu? "Soal palsu itu urusan polisi nanti," kata Bambang.**kompas

 

Profil Sukmawati Sukarnoputri
Minggu, 30 Mei 2004 | 12:43 WIB

Nama: Sukmawati Sukarnoputri
Nama Lengkap: Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri
Lahir: Jakarta, 26 Oktober 1951
Agama: Islam
Suami: Muhammad Hilmy
Anak: Tiga (3) orang

Pekerjaan:
Politisi, Artis, Swasta

Pendidikan:
1. Sekolah Rakyat (SR), tamat tahun 1964, di Perguruan Cikini, Jakarta
2. SMP, tamat tahun 1967, di Perguruan Cikini, Jakarta
3. SMA, tamat tahun 1969, di SMA Negeri 3 Teladan, Jakarta
4. Akademi Tari, di LPKJ, Jakarta, tahun 1970-1974
5. Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, sejak tahun 2003 sampai sekarang

Organisasi:
1. Anggota Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), tahun 1970
2. Ketua Ormas Gerakan Rakyat Marhaen (GRM), tahun 1991-1998
3. Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI), tahun 1991-1998
4. Ketua Umum Partai Nasionalis Indonesia Marhaenisme, tahun 2003-2005

Pengalaman Kerja:
1. Poitisi
2. Artis dan Penulis Cerita Film
3. Komisaris Utama Perusahaan

Alamat:
JL.Cikoko No.15 Jakarta Selatan, Telp: (021) 7981241, Fax: (021) 7900489

November 14, 2008

Hello world!

Filed under: Uncategorized

Welcome to your new blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

An email has been sent to you giving you details of how to log in to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. If you have any questions, ask them in the forums — we are only too willing to help.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan